Abad 20 merupakan abad yang sering menentukan, tak perlu bingung lagi untuk merelevansikan diri, karena manusia pada saat ini tinggal memilih untuk hidup sesuai zamanya atau ketinggalan zaman. Manusia kini adalah manusia yang mudah terbawa apapun yang bersifat baru walaupun yang baru itu belum sepenuhnya sejalan dengan norma adat dan agama yang telah ada sejak dahulu.
Jadi sisi kemanusian kini telah mentransformasikan dirinya menjadi objek perkembangan zaman bukanlagi yang menjadi subjeknya. Apa yang baru dan memasyarakat biasa disebut dengan “Trend”, dan manusia kini tanpa melihat pria atau wanita pastilah merasa bangga bila dikatakan bahwa ia telah berkehidupan menyesuaikan zaman, bila sudah seperti itu soal keimanan adalah bukan menjadi hal prioritas lagi bahkan nilainya sedikit demi sedikit akan memudar sama sekali.
Manusia kini telah menjadi apatis terhadap nuraninya, tak menganggap ada dan bahkan hamper menjauh dari ghirah-nya sebagai insan-insan yang bertuhan. Akan tetapi inilah realitas, baik manusia pada umumnya dan umat islam pada khususnya telah terlena sehingga sakralitas nilai keberagamaan islam itu sendiri mereka lupakan. Pada saat yang sama juga ternyata manusia telah banyak yang tidak sadar bahwa mereka bermain-main pada sebuah kesia-siaan. Naudzubilah!!
Dari sudut pandang Islam tidak dilarang manusia menyesuaikan zaman malahan beberapa intelektual muslim berkesimpulan bahwa islam menuntut kita untuk menjadi manusia-manusia yang peka terhadap zamannya. Tetapi semuannya itu harus berada pada koridor keimanan dan fitrah manusia maksudnya iman dalam konteks nilai-nilai keislaman itu sendiri dan fitrah dalam ruang lingkup manusia sebagai ciptaan Tuhan.
Pada umumnya setiap agama memiliki karakteristik dan jatidirinya masing-masing. Khususnya islam, islam seperti yang telah kita ketahui bahwa ajarannya merupakan “the way of life” ini berlaku sepanjang zaman karena Al-quran memiliki kedudukan sebagai petunjuk hidup ini bersifat dahulu-sekarang-yang akan datang sehingga baik langsung atau tidak langsung telah terbentuk jatidiri keimanan islam yang harus diakui dan di aplikasikan para pemeluknya kedalam kehidupan sehari-hari.
Islam sangat peka sekali terhadap umatnya, hampir setiap ayat-ayat didalam petunjuknya (al-Quran) memiliki ruh karakteristik yang sangat mewujud, sehingga umat islam bisa lebih impresif dalam dinamika kehidupan yang dijalaninya sebagai manusia yang berketuhanan. Sangat banyak petunjuk-petunjuk di alquran yang mengarahkan manusia kepada kekuatan karakteristik atau jatidiri keimanan islam tersebut akan tetapi ada salah satunya yang lebih dan paling menonjol karena menurut hemat saya ini mempunyai “kekuatan Karakter” yang kuat. Jatidiri keimanan islam yang paling menonjol ini adalah hijab, hijab sendiri adalah busana wanita muslim yang menutupi seluruh badan tubuhnya dari kepala sampai telapak kaki. Yang mungkin saat ini biasa disebut jilbab.
Jadi sisi kemanusian kini telah mentransformasikan dirinya menjadi objek perkembangan zaman bukanlagi yang menjadi subjeknya. Apa yang baru dan memasyarakat biasa disebut dengan “Trend”, dan manusia kini tanpa melihat pria atau wanita pastilah merasa bangga bila dikatakan bahwa ia telah berkehidupan menyesuaikan zaman, bila sudah seperti itu soal keimanan adalah bukan menjadi hal prioritas lagi bahkan nilainya sedikit demi sedikit akan memudar sama sekali.
Manusia kini telah menjadi apatis terhadap nuraninya, tak menganggap ada dan bahkan hamper menjauh dari ghirah-nya sebagai insan-insan yang bertuhan. Akan tetapi inilah realitas, baik manusia pada umumnya dan umat islam pada khususnya telah terlena sehingga sakralitas nilai keberagamaan islam itu sendiri mereka lupakan. Pada saat yang sama juga ternyata manusia telah banyak yang tidak sadar bahwa mereka bermain-main pada sebuah kesia-siaan. Naudzubilah!!
Dari sudut pandang Islam tidak dilarang manusia menyesuaikan zaman malahan beberapa intelektual muslim berkesimpulan bahwa islam menuntut kita untuk menjadi manusia-manusia yang peka terhadap zamannya. Tetapi semuannya itu harus berada pada koridor keimanan dan fitrah manusia maksudnya iman dalam konteks nilai-nilai keislaman itu sendiri dan fitrah dalam ruang lingkup manusia sebagai ciptaan Tuhan.
Pada umumnya setiap agama memiliki karakteristik dan jatidirinya masing-masing. Khususnya islam, islam seperti yang telah kita ketahui bahwa ajarannya merupakan “the way of life” ini berlaku sepanjang zaman karena Al-quran memiliki kedudukan sebagai petunjuk hidup ini bersifat dahulu-sekarang-yang akan datang sehingga baik langsung atau tidak langsung telah terbentuk jatidiri keimanan islam yang harus diakui dan di aplikasikan para pemeluknya kedalam kehidupan sehari-hari.
Islam sangat peka sekali terhadap umatnya, hampir setiap ayat-ayat didalam petunjuknya (al-Quran) memiliki ruh karakteristik yang sangat mewujud, sehingga umat islam bisa lebih impresif dalam dinamika kehidupan yang dijalaninya sebagai manusia yang berketuhanan. Sangat banyak petunjuk-petunjuk di alquran yang mengarahkan manusia kepada kekuatan karakteristik atau jatidiri keimanan islam tersebut akan tetapi ada salah satunya yang lebih dan paling menonjol karena menurut hemat saya ini mempunyai “kekuatan Karakter” yang kuat. Jatidiri keimanan islam yang paling menonjol ini adalah hijab, hijab sendiri adalah busana wanita muslim yang menutupi seluruh badan tubuhnya dari kepala sampai telapak kaki. Yang mungkin saat ini biasa disebut jilbab.
Seperti QS.Al-Ahzab ayat 59 menyatakan :
Artinya : Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu'min: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.
Menurut analisa dan permainan logika persepsi saya, Ayat tersebut diatas bersifat perintah dan dari ayat tersebut pula bisa kita simpulkan bahwa hijab (jilbab) itu merupakan suatu keharusan sebagai pembentuk jatidiri wanita muslim yang dapat membedakannya dari para wanita kafir. Dan inilah sebuah trend, trend dalam islam bagi perempuan yang juga memberikan kemuliaan serta memperkukuh jatidiri keislamannya.
Hijab (jilbab) sebagai jatidiri wanita muslim adalah menjadi sesuatu yang memperkuat karakter keislamannya manusia itu sendiri, dengan hemat kata wanita dengan hijab (jilbab) dalam keseharian adalah bisa kita sebut sebagai sebuah “trend setter” yang positif. Disamping itu hijab yang biasa kita sebut jilbab ini juga senantiasa melindungi aurat-aurat wanita muslim dari hal-hal yang bersifat negatif, karena wanita dan auratnya adalah harta yang paling berharga dari allah yang nilainnya tak terhingga dari emas permata sekalipun. Yang kemudian harta tersebut akan terlihat kemilaunya hanya pada mahligai rumah tangga yang sakinah nanti dan hanya kepada suami, dibawah atap pernikahan yang suci.
Wanita adalah mutiara, dalam konsep islam ibu yang tentunya seorang perempuan memiliki kedudukan yang tinggi yang kesucian harus selalu terjaga akannya, oleh sebab itu wanitalah yang harusnya lebih dahulu menghargai anugrahnya sebagai kodratilah yang istimewa. Islam mengarahkan wanita, islam menghargai wanita, tapi mengapa wanita itu sendiri tidak banyak yang menyadarinya? Mengapa wanita-wanita islam kini seolah terlepas dari hakikat jatidirinya??. Jawabannya mungkin karena belum melekatnya nilai keimanan keberagamaan dan kurangnya motivasi positif yang membangun sehingga mereka tidak sadar bahwa mereka sebenarnya mempunyai kodrat yang berbeda dari laki-laki dan itulah yang menuntut mereka kepada kekuatan karakter mereka sebagai jatidiri yang islami.
Ketika saya pernah bertanya kepada teman saya yang muslimah mengapa ia tidak menggunakan jilbabnya? Ia hanya berkata “ah, yang pake jilbab aja belum tentu sesuai dengan jilbanya!! Yang penting hatinya donk…!!, setelah saya mendengarkannya dalam hati saya bergumam dan merenungkannya kembali yang akhirnya terbersit sebuah pertanyaan yang dapat membalikkan logika perkataan tadi, “Berarti, bila yang menggunakan hijabnya masih diragukan keabsahannya apalagi yang tidak berhijab?? Lagipula, walaupun seperti yang ia katakan, ini soal niat bagaimanapun ia telah memulai dan membiasakan dirinya dengan hijab yang konsekwensinya adalah ia akan lebih terarah kepada kebiasaan yang positif.
Sekali lagi, disinilah patut kita pertimbangkan, bila ada ajakan kepada sesuatu yang lebih baik dan lebih mengarahkan kepada kebaikan mengapa kita memilih yang cenderung kepada kesia-siaan?? Kemudian, apa yang menjadi panutan adalah akan mewujud pada karakter keimanan kita. Diperlukan komitment lalu konsistensi yang menggenggam sehingga ruh tersebut tidak akan terlepas selama-lamanya dan kita sebagai umatnya akan berdiri teguh didalam konstituen keislaman. Rupanya inilah yang mungkin kita idam-idamkan dalam dinamika kehidupan masyarakat madani yang lebih mengedepankan nilai-nilai ketuhanan. Subhanallah…
Maka dari itu bangunlah kesadaran wahai saudariku, seruan ini untuk kalian pribadi bukan untuk kami pribadi bukan juga untuk tuhan, tapi murni untuk diri kalian sendiri, kalian adalah mulia, kalian adalah mutiara agama, kalian adalah pusaka agama, hormatilah kodrat kalian dan junjung tinggi martabat kalian karena kalian adalah calon seorang ibu yang senantiasa menjadi tauladan anak-anakmu yang jua akan menjadi generasi islam yang isya Allah meneruskan cita-cita islam sebagai “the way of life”. Amien..
Wahai saudariku kami rindu akan jatidiri kalian sebagai wanita muslim. Kami rindu pada hijab(jilbab) kalian, kalian akan terlihat lebih cantik dan lebih menarik dimata kami, kalianlah permata lelaki yang shalih dan kalian dengan hijab(jilbab) kalian tanpa sadar membangun sebuah peradaban yang memanusiakan-manusia bukan kembali kepada peradaban zaman orang-orang purba. Sadarlah kalian, hidup kalian untuk kembali pada Allah dan kalian tidak tahu kapan kalian akan kembali. Jadilah “trend setter” dengan memperlihatkan jatidiri kalian sebagai cirikhas wanita-wanita muslim pada umumnya.
Hijab (jilbab) sebagai jatidiri wanita muslim adalah menjadi sesuatu yang memperkuat karakter keislamannya manusia itu sendiri, dengan hemat kata wanita dengan hijab (jilbab) dalam keseharian adalah bisa kita sebut sebagai sebuah “trend setter” yang positif. Disamping itu hijab yang biasa kita sebut jilbab ini juga senantiasa melindungi aurat-aurat wanita muslim dari hal-hal yang bersifat negatif, karena wanita dan auratnya adalah harta yang paling berharga dari allah yang nilainnya tak terhingga dari emas permata sekalipun. Yang kemudian harta tersebut akan terlihat kemilaunya hanya pada mahligai rumah tangga yang sakinah nanti dan hanya kepada suami, dibawah atap pernikahan yang suci.
Wanita adalah mutiara, dalam konsep islam ibu yang tentunya seorang perempuan memiliki kedudukan yang tinggi yang kesucian harus selalu terjaga akannya, oleh sebab itu wanitalah yang harusnya lebih dahulu menghargai anugrahnya sebagai kodratilah yang istimewa. Islam mengarahkan wanita, islam menghargai wanita, tapi mengapa wanita itu sendiri tidak banyak yang menyadarinya? Mengapa wanita-wanita islam kini seolah terlepas dari hakikat jatidirinya??. Jawabannya mungkin karena belum melekatnya nilai keimanan keberagamaan dan kurangnya motivasi positif yang membangun sehingga mereka tidak sadar bahwa mereka sebenarnya mempunyai kodrat yang berbeda dari laki-laki dan itulah yang menuntut mereka kepada kekuatan karakter mereka sebagai jatidiri yang islami.
Ketika saya pernah bertanya kepada teman saya yang muslimah mengapa ia tidak menggunakan jilbabnya? Ia hanya berkata “ah, yang pake jilbab aja belum tentu sesuai dengan jilbanya!! Yang penting hatinya donk…!!, setelah saya mendengarkannya dalam hati saya bergumam dan merenungkannya kembali yang akhirnya terbersit sebuah pertanyaan yang dapat membalikkan logika perkataan tadi, “Berarti, bila yang menggunakan hijabnya masih diragukan keabsahannya apalagi yang tidak berhijab?? Lagipula, walaupun seperti yang ia katakan, ini soal niat bagaimanapun ia telah memulai dan membiasakan dirinya dengan hijab yang konsekwensinya adalah ia akan lebih terarah kepada kebiasaan yang positif.
Sekali lagi, disinilah patut kita pertimbangkan, bila ada ajakan kepada sesuatu yang lebih baik dan lebih mengarahkan kepada kebaikan mengapa kita memilih yang cenderung kepada kesia-siaan?? Kemudian, apa yang menjadi panutan adalah akan mewujud pada karakter keimanan kita. Diperlukan komitment lalu konsistensi yang menggenggam sehingga ruh tersebut tidak akan terlepas selama-lamanya dan kita sebagai umatnya akan berdiri teguh didalam konstituen keislaman. Rupanya inilah yang mungkin kita idam-idamkan dalam dinamika kehidupan masyarakat madani yang lebih mengedepankan nilai-nilai ketuhanan. Subhanallah…
Maka dari itu bangunlah kesadaran wahai saudariku, seruan ini untuk kalian pribadi bukan untuk kami pribadi bukan juga untuk tuhan, tapi murni untuk diri kalian sendiri, kalian adalah mulia, kalian adalah mutiara agama, kalian adalah pusaka agama, hormatilah kodrat kalian dan junjung tinggi martabat kalian karena kalian adalah calon seorang ibu yang senantiasa menjadi tauladan anak-anakmu yang jua akan menjadi generasi islam yang isya Allah meneruskan cita-cita islam sebagai “the way of life”. Amien..
Wahai saudariku kami rindu akan jatidiri kalian sebagai wanita muslim. Kami rindu pada hijab(jilbab) kalian, kalian akan terlihat lebih cantik dan lebih menarik dimata kami, kalianlah permata lelaki yang shalih dan kalian dengan hijab(jilbab) kalian tanpa sadar membangun sebuah peradaban yang memanusiakan-manusia bukan kembali kepada peradaban zaman orang-orang purba. Sadarlah kalian, hidup kalian untuk kembali pada Allah dan kalian tidak tahu kapan kalian akan kembali. Jadilah “trend setter” dengan memperlihatkan jatidiri kalian sebagai cirikhas wanita-wanita muslim pada umumnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar